Penyu yang Sakit Hati dan Redupnya Nalar

0

Hening sudah ketika Balai Konservasi Sumber Daya Alam beserta sejejer pejabat Bengkulu mengumumkan hasil uji laboratorium penyu mati di pantai Teluk Sepang.

Kesimpulannya, puluhan penyu mati yang bergelimpangan di pantai Bengkulu karena sakit hati plus seonggok bakteri yang menggerogoti. Mereka merinci dalam bahasa medis tanpa menjelaskan asal muasal apa musabab penyakit itu bisa serentak menyerang para penyu.

Tak dirinci juga apakah sampel yang diuji itu benar mewakili nasib penyu lain yang meregang nyawa di tempat serupa. Apalah daya, kami yang awam ini pun, terpaksa menelan bulat-bulat kesimpulan itu.

Tanpa ada second opinion atau analisis pembanding dari ahli lain. Narasi otoritas yang berkelindan dengan kepentingan proyek strategis nasional di sarangnya penyu itu pun seperti jadi pamungkas akhir tragis kawanan penyu di Teluk Sepang.

Saya coba menelusur ke beberapa laporan media mengenai isu ini. Tak tampak satu pun ahli khususnya akademisi yang rela menyampaikan atau berbagi pengetahuannya soal fenomena ini.

Padahal angka kematian penyu langka yang mencapai 28 ekor dan beruntun kematiannya ini bukanlah hal remeh dan layak diabaikan. Apalagi kesimpulan bahwa kawanan penyu ini mati karena ‘sakit hati’, sungguhlah benar-benar membuat patah hati.

Apa mungkin sebegitunya? Musababnya apa? Pertanyaan ini tak terjawab dengan terang. Seperti ada yang menggantung. Media yang menjadi mata dan telinga publik pun luput mengoreknya lebih dalam.

Para akademisi yang semestinya bergelimang pengetahuan dan pandangan pun ikut bersembunyi. Jika pun ada, itu juga narasinya sama. Frekuensinya seperti memancarkan gelombang sumbang. Seperti menggaungkan ketumpulan nalar dan menjejalkannya secara paksa ke publik.

Kami butuh pandangan berbeda atau setidaknya yang bisa menjelaskan kematian penyu ini tidak dalam bahasa priyayi. Sebab, terlepas ada isu proyek listrik yang pastinya mencelakakan itu.

Kematian puluhan penyu tak bisa kita samakan dengan kematian ikan cere yang kena deterjen. Mereka makhluk yang berbeda yang menjadi penjaga keberadaan ikan di lautan.

Cangkang mereka membawa cerita dari belahan benua. Kesetiaan mereka pada pasir dimana mereka dilahirkan bukan cerita legenda.

Kami butuh akademisi lain yang mungkin berada di lain frekuensi. Kami tak sudi kalau mereka cuma bergelung di balik gedung megah kampus dan melumat teori buku lalu memuntahkannya kembali ke muka mahasiswa mereka.

Kampus itu gudang pengetahuan dan sepatutnya juga mereka menjadi benteng ketika kami yang awam dipaksa menerima narasi yang mungkin saja salah atau terpeleset dalam kubangan kepentingan

Salam dari kawan penyu yang ‘sakit hati’.

 

Penulis Alumnus Universitas Bengkulu.
Saat ini Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Provinsi Bengkulu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.