Presiden Jokowi Instruksikan BI dan Pemda Se-Indonesia Beperan Dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

0

JAKARTA, terupdate.id  Memasuki triwulan ke empat 2020, Indonesia memiliki fase aktif penyebaran covid-19 sebesar 12,72 persen sedangkan rata-rata dunia 28,04 persen. Kemudian tingkat kesembuhan juga semakin membaik mencapai angka 84,02 persen lebih baik dari angka kesembuhan rata-rata dunia sebesar 69,56 persen.

Sinyal positif perekonomian ini, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta (BI) dapat mengambil bagian yang lebih signifikan dalam reformasi fundamental yang tengah dilakukan pemerintah.

“Saya berharap Bank Indonesia mengambil bagian yang lebih signifikan dalam reformasi fundamental yang sedang kita gulirkan,” kata Presiden Jokowi dalam arahan secara virtual pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2020.

Selain itu Presiden Jokowi juga menyampaikan harapannya agar BI berkontribusi lebih besar untuk ikut menggerakkan sektor riil, mendorong penciptaan lapangan kerja baru, dan membantu pelaku usaha terutama UMKM agar bisa kembali produktif.

“Dalam kondisi krisis ini kita harus mampu bergerak cepat dan tepat, buang jauh ego sektoral, egosentris lembaga,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi menekankan seluruh pihak harus fokus bergerak ke depan sebagai upaya keluar dari pandemi, menyiapkan vaksin dan program vaksinasi dengan cermat agar Indonesia dapat bangkit dan pulih dari pandemi.

“Kita harus bergerak cepat karena masih banyak pekerjaan rumah belum kita selesaikan. Kita dihadapkan pada besarnya jumlah pengangguran akibat PHK masa pandemi, kita menghadapi besarnya angkatan kerja yang memerlukan lapangan kerja. Oleh karena itu pemerintah lakukan reformasi struktural,” pungkas Presiden Jokowi.

Pada kesempatan yang sama melalui Virtual Meeting, disampaikan Gubernur BI Perry Warjoyo, bahwa pihaknya optimis pemulihan ekonomi nasional pada tahun 2021 dapat terwujud dengan penguatan sinergi melalui 1 prasyarat dan 5 strategi.

“Satu prasyarat tersebut adalah vaksinasi dan disiplin protokol COVID-19, dan 5 strategi respons kebijakan sebagai berikut, yaitu pembukaan sektor produktif dan aman, percepatan stimulus fiskal (realisasi anggaran), peningkatan kredit dari sisi permintaan dan penawaran, stimulus moneter dan kebijakan makroprudensial, dan digitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya UMKM,” demikian disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo.

Pemulihan ekonomi nasional yang tengah berlangsung diprakirakan semakin meningkat. Pada tahun 2021, ekonomi Indonesia diprakirakan tumbuh mencapai 4,8-5,8%, didukung oleh peningkatan kinerja ekspor, konsumsi swasta dan pemerintah, serta investasi baik dari belanja modal Pemerintah maupun dari masuknya PMA sebagai respons positif terhadap UU Cipta Kerja. Pertumbuhan di seluruh wilayah juga akan meningkat, khususnya Jawa serta wilayah Sulawesi-Maluku-Papua.

Stabilitas makroekonomi terjaga dengan inflasi yang akan terkendali sesuai sasaran 3±1% serta nilai tukar Rupiah yang akan bergerak stabil dan berpotensi menguat. Stabilitas eksternal terjaga, dengan surplus neraca pembayaran didukung defisit transaksi berjalan yang rendah di sekitar 1,0-2,0% PDB. Stabilitas sistem keuangan juga semakin membaik, dengan rasio permodalan yang tinggi, NPL yang rendah, serta pertumbuhan DPK dan kredit yang masing-masing meningkat ke sekitar 7-9% pada 2021.

Lanjut Perry, momentum pemulihan ekonomi nasional perlu terus didorong dengan memperkuat sinergi membangun optimisme oleh semua pihak baik Pemerintah (Pusat dan Daerah), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan dan berbagai pihak lainnya. Vaksinasi dan disiplin protokol Covid-19 merupakan kondisi prasyarat bagi pemulihan ekonomi nasional.

Bank Indonesia mendukung pemulihan ekonomi nasional melalui stimulus kebijakan moneter yang akan dilanjutkan di tahun 2021 yang antara lain ditempuh melalui stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamental dan mekanisme pasar tetap dijaga, suku bunga yang akan tetap rendah, sampai dengan muncul tanda-tanda tekanan inflasi meningkat, dan melanjutkan pembelian SBN dari pasar perdana untuk pembiayaan APBN Tahun 2021 sebagai pembeli siaga (non-competitive bidder) dan kebijakan makroprudensial yang juga tetap akan akomodatif pada tahun 2021.

Bank Indonesia juga akan terus mengakselerasi implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025, mempercepat Pendalaman pasar uang sesuai Blueprint Pendalaman Pasar Uang (BPPU) 2025, terus mendukung pengembangan ekonomi-keuangan Syariah dan UMKM, dan terus aktif dalam berbagai forum internasional dari sisi kebijakan internasional.

Bank Indonesia juga akan terus mengarahkan seluruh instrumen kebijakan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, yang terkoordinasi erat dengan Pemerintah dan KSSK, dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. (red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.